Home » Devdas: Kisah Cinta Dua Dunia by Sarat Chandra Chattopadhyay
Devdas: Kisah Cinta Dua Dunia Sarat Chandra Chattopadhyay

Devdas: Kisah Cinta Dua Dunia

Sarat Chandra Chattopadhyay

Published
ISBN :
258 pages
Enter the sum

 About the Book 

Tanpa berpanjang-panjang: setiap bangsa memiliki kisah cinta yang dipuja-puja. Di jagad Inggris ada kisah Romeo dan Juliet (1594-5) yang begitu menyayat hati. Di China ada kisah Sampek-Engtay. Dari ranah Minang ada Siti Nurbaya (1922). Dari TimurMoreTanpa berpanjang-panjang: setiap bangsa memiliki kisah cinta yang dipuja-puja. Di jagad Inggris ada kisah Romeo dan Juliet (1594-5) yang begitu menyayat hati. Di China ada kisah Sampek-Engtay. Dari ranah Minang ada Siti Nurbaya (1922). Dari Timur Tengah ada Layla Majnun. Bersetting Amerika modern, ada Cerita Cinta (1970) yang diangkat dari film dengan judul sama. Kesemuanya memang karya sastra. Tapi tidak jarang pula dari karya-karya sastra itu yang diakuisi oleh tradisi menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Paling dekat, ada kisah Siti Nurbaya karya Marah Rusli yang begitu mendarah daging hingga menjadi bagian dari tradisi Minang. Maka, jangan anggap berlebihan jika kemudian di Padang ada fly over bersebut Jembatan Siti Nurbaya yang peresmiannya menghadirkan H.I.M. Damsyik, sang Datuk Maringgih versi sinetron. Ada satu sebab yang ikut menumbuhkan rasa memiliki di kalangan masyarakatnya: menancap kuatnya akar tradisi ke dalam cerita-cerita tersebut.Kisah-kisah cinta itu boleh berasal dan dimuati budaya berbeda-beda, namun ada satu hal yang seragam: semuanya berdarah-darah. Yang ada adalah cinta yang kandas, tapi tidak pupus. Kasih tak sampai yang terus diperjuangkan dan akibatnya hanya tambah membuat sengsara pihak-pihak yang terbelit di dalamnya. Inilah kisah cinta di mana seorang pecinta sampai pada keputusan untuk meletakkan kematian di atas segala-galanya. Dan air mata kita pun menitik, atau bahkan mengucur, dibuatnya.Demikianlah kisah-kisah yang hampir semua kita hapal setiap kelok alurnya. Tapi, adakah kita pernah mendengar kisah Devdas dari India? Devdas, terbit pertama kali pada tahun 1917, lahir dari tangan Saratchandra Chattopadhyay. Devdas menghadirkan tema kasih tak sampai, dan terbukti berhasil. Mengisahkan lika-liku hubungan antara Devdas dan Paro yang ditaburi luka hati di berbagai sudutnya, kisah ini telah menguras berember-ember air mata. Hal itu dibuktikan dengan fakta bahwa Devdas telah delapan kali difilmkan. India memang gudangnya film penguras air mata. Tak kunjung punah eksplorasi para penulis skenario India menghasilkan kisah-kisah yang membuat Bollywood dianggap sebagai ladang film paling subur di muka bumi. Tapi jika sebuah kisah sampai difilmkan sampai delapan kali—dan salah satunya dibintangi Sahrukh Khan—tidaklah salah jika kita membayangkan bahwa Devdas bukanlah kisah yang begitu-begitu saja.Berlatarkan kehidupan tradisional India, Devdas diawali dengan kisah masa kecil Devdas dan Paro yang diwarnai dengan kenakalan Devdas si anak zamindar, tuan tanah, berkasta brahmana dan keluguan Paro, seorang gadis cantik anak tetangganya yang berasal dari golongan pedagang. Devdas yang kelewat nakal itu dikeluarkan dari sekolah. Dan Paro yang sudah menumbuhkan bibit cinta kepadanya pun emoh jauh darinya, meski awalnya Devdas tak segan-segan memukul Paro. Saking tidak inginnya jauh-jauh dari Devdas, Paro membuat akal bulus sedemikian rupa hingga orang tuanya merestui dia keluar sekolah, sehingga bisa terus bermain dengan Devdas. Maka selama setahun, berdua Devdas dan Paro runtang-rantung, memonumenkan kedekatan. Hingga kemudian Devdas dikirim ke Kalkuta untuk bersekolah. Pun demikian, Paro yang lebih dulu memiliki hati untuk Devdas tak pernah sedetik pun melupakan Devdas. Maka, mulailah terpasang mata rantai pertama dalam rantai panjang tangis nelangsa.Sejak ini kepiluan-kepiluan mulai datang silih berganti layaknya sebuah kisah cinta yang tak ingin sekejap pun membuat pembacanya berpaling. Di satu titik Paro merindu namun Devdas bersikap bagai tak tahu-menahu. Di satu titik ada saat-saat ketika Devdas dan Paro membulatkan tekad untuk memperjuangkan cinta, namun kemudian tekad itu ambyar. Di sudut lain ada perjodohan Paro yang meremukkan harapannya, namun Devdas memandangnya dengan sikap pasrah-serba-tak-tahu-harus-berkata-apa a la Rangga AADC.Di antara jajaran kisah cinta yang kita kenal, Devdas memiliki arti tersendiri karena mengakar kuat pada tradisi sosialnya. Ada elemen unik India yang memainkan peran penting: pembedaan kasta. Persatuan antara Devdas dan Paro tidak dimungkinkan karena perbedaan kasta di antara mereka. Ditambah lagi kebertetanggaan mereka berdua menjadikan pernikahan memalukan. Hal semacam ini tidak ada dalam kamus masyarakat Indonesia, bukan? Dan ketika pada akhirnya Paro menikahi seorang duda tua tuan tanah—atas kemauan sang duda, tentunya—Paro menunjukkan sikap hormat luar biasa dan mulai mencintai keluarga suaminya yang sudah bau tanah itu. Maka Devdas pun semakin hancur hatinya.Seperti halnya kawin paksa dalam Siti Nurbaya yang memicu tragedi cinta, atau permusuhan antar keluarga bangsawan dalam Romeo dan Juliet, atau perbedaan tingkat ekonomi dan profesi dalam Cerita Cinta, perbedaan kasta benar-benar diberdayakan untuk menciptakan tragedi dalam Devdas. Dengan muatan lokal seperti ini, kisah ini menjadi penting artinya dalam jajaran kisah-kisah cinta dunia.Kisah-kisah cinta yang berdampak besar kepada banyak orang seperti itu mau tak mau mengingatkan kita kepada salah satu kritik paling sepuh dalam jagad sastra, yakni kritik tentang tragedi yang dilontarkan oleh Aristotles. Dia mengemukakan bahwa tragedi, yang mengisahkan kejatuhan seorang berkedudukan tinggi, bisa membuat seorang penikmat mengidentifikasi diri dengan si tokoh utama, sehingga ketika si tokoh merasakan sakit tak terperi, atau bahkan kematian, pembaca akan juga terbawa ke dalam takut dan iba, yang kemudian pada ujungnya akan membawa ledakan perasaan haru, katharsis, yang menggiring kepada pemikiran dan pemahaman atas kejadian itu. Tanpa bermaksud menyamakan Devdas dengan drama Raja Oedipus karya Sophocles, yang dipandang Aristotle sebagai contoh ideal tragedi, saya rasa tidak ada salahnya menggunakan cuilan kritik tragedi itu untuk melihat Devdas. Apakah Devdas berhasil sebagai sebuah kisah tragis? Hal-hal seperti itu bisa diserahkan kepada pembaca.Maka, silakan Anda coba menguji seberapa besar daya katharsis yang dimiliki Devdas yang hadir dalam terjemahan Indonesia yang berani memasukkan kata-kata berbahasa non Indonesia baku yang malah membuat kita lebih merasakan gairah cerita itu sendiri. Di satu pihak, pembaca Indonesia akan merasa ada jarak yang terkurangi antara dia dan novel itu sendiri. Saat membaca novel terjemahan, seringkali kita mendapatkan karya-karya yang terasa dingin karena penerjemah menerjemahkannya dengan terlalu halus. Sehingga, kita pun seakan-akan bisa merasakan bahwa suatu karya adalah karya terjemahan atau tidak. Dampaknya, kita akan merasakan adanya jarak dengan novel itu. Bukan jarak estetis, seperti yang banyak dibilang orang. Kita seakan harus berhadapan dulu dengan bahasa sebelum pada akhirnya menyelami cerita. Dalam Devdas, untungnya, penerjemah dan penyunting telah banyak berjasa mengurangi penghalang bahasa tersebut dengan mengindonesiakan dengan agak tidak biasa. Banyak kata-kata berbahasa Jawa yang dipakai yang malah membuat pembaca—setidaknya saya sendiri—merasa tidak ada lagi halangan kebahasaan. Coba saja lihat kata goal-gail, semaput, gendeng, gemblung, dan sebagainya. Kita tentu akan melihat bahasa dalam novel itu sebagai bahasa yang natural, bukan bahasa Indonesia yang terlalu baik dan benar, dan ujung-ujungnya menjemukan. Untuk urusan terjemahan, pantaslah kita menghargai Devdas versi Indonesia yang diterbitkan Kayla Pustaka ini.Masuki kisah yang diceritakan dengan sangat ringan dari sudut pandang seorang juru cerita ini. Dan rasakan, apakah Anda bisa merasakan takut dan iba dan temukan juga bagian-bagian—kebanyakan dialog—yang membikin tengkuk kita meremang dan ngerti dengan bagaimana seseorang menyatakan cintanya. Dengan kentalnya nuansa tradisi melingkupi dan membentuk arah ceritanya, mau tidak mau kita akan dipaksa mempertanyakan, setelah Siti Nurbaya, kisah cinta mana lagi karya penulis negeri yang bisa membangkitkan takut dan iba sambil sekaligus juga menghadirkan logika cerita yang matang dan kuat dengan muatan lokal.